Minggu, 12 Juli 2015

Memilih Pasangan Sejati

Sedang berbinar-binar dimabuk cinta? cinta monyet atau sudah ingin serius melangkah ke jenjang pernikahan? Sudah terbayang-bayang di pelupuk mata indahnya mengarungi bahtera hidup dengan si DIA, yang dipikirkan hanya DIA...DIA...DIA. Ga peduli lagi deh sama yang lain-lainnya. Haayoo ngaku??

Ga cuma kamu kok yang merasakan hal yang demikian, banyak perempuan yang sebelum memutuskan untuk menikah menaruh harapan besar untuk merasakan kebahagiaan pasca menikah nanti. Namun, kita harus tetap berpikir jernih bahwa perlu persiapan yang matang dan banyak aspek yang perlu kita perhatikan dalam menghadapi yang namanya penikahan. Salah satunya adalah memilih pasangan. Siapa pun dia, kita haruslah siap untuk menjalani separuh hidup kita dengannya, maka pilihlah pasangan yang terbaik sehingga separuh hidup yang kita jalani bersamanya akan menjadi petualangan hebat dan terindah dalam hidup kamu. Kalau bahasa kerennya happy ending love story.

Semoga tips-tips berikut bisa menjadi solusi untuk kamu yang sedang galau dalam memilih pasangan sejatimu ya...check this out!

1. KETAHUILAH KEKURANGANNYA
"Cinta bisa membutakan segalanya" hihi...kadang kita akan menjadi lebih fokus dengan yang lebih-lebihnya dari dirinya, dan lupa bahwa ia juga pasti punya kekurangan. Jika kita sudah tahu kekurangan yang ada padanya, maka kita bisa menentukan sikap kita apakah akan menerima dia atau tidak sebagai pasangan kita. Keputusan yang kita ambil tentunya memiliki konsekuensi masing-masing. Jangan memaksakan diri jika malah akan berdampak di kemudian hari, namun jika kekurangan yang sifatnya tidak prinsipil dan masih bisa kamu maklumi maka lanjutkan saja, toh tak ada yang sempurna di dunia ini kan??

2. JUJURLAH PADANYA
Inginnya tampil sesempurna mungkin di depan si dia, tapi kalau harus menutupinya dengan kebohongan, itu kesalahan besar say...ceritakan apa adanya baik atau buruk, manis atau pahit, kejujuran tetap jauh  lebih indah. Dari pada si dia tahu dari mulut orang lain, lebih menyakitkan. Pasangan yang terbaik untukmu akan meneerima kamu apa adanya. Yakin deh...kita akan lebih tenang menghadapi pernikahan jika selalu dilandasi dengan kejujuran.

3. PRIVASI DAN KEPERCAYAAN
Posesive...gerah banget ya kalau apa yang kamu kerjakan harus selalu lapor sama pasangan, diawasi 24 jam sehari 7 hari seminggu udah kyak CCTV aja. Capek!!! kalau pasangan kamu beralasan itu karena sayang, itu sih bentuk sayang yang berlebihan. Atau malah kamu yang demikian? Setiap individu perlu meluangkan waktunya untuk hal yang privasi juga. Kamu atau pasangan kamu punya hak untuk itu. Berilah kepercayaan padanya, jangan sampai karena kita yang terlalu mengekang pasangan, malah membuat dia jadi berbohong atau mencari kenyamanan dengan yang lain. Kalau dia yang mengekang kamu berlebihan sebelum menikah, mendingan coret aja namanya jadi calon suami, kamu pasti ga mau kan terkurung bagai burung dalam sangkar setelah menikah nanti?

4. STOP MEMBANDING-BANDINGKAN!
Jadi dirimu sendiri, dia pun ingin menjadi dia apa adanya. Membandingkan dia dengan seseorang yang kamu anggap lebih ideal akan menyakiti hati pasangan kamu. Bila dilakukan terus menerus kita malah akan selalu melihat kekurangan yang ada pada dirinya. Memang rumput tetangga akan tampak lebih hijau, tapi kita tak pernah tahu apa yang akan tumbuh di taman kita bila kita terus menyiramnya dan merawatnya dengan sebaik mungkin. Siramlah dengan cinta tulus, dan rawatlah dengan rasa syukur, lihat usahanya untuk selalu membuat kamu bahagia dengan caranya sendiri.

5. SALING SUPORT
Kegiatan positif kamu selalu dia dukung dengan sepenuh hati, aktiv berpartisipasi, mau terjun langsung membantu kamu dalam menjalani setiap momen aktivmu. Dia mungkin orang yang tepat untukmu. Kamu akan merasakan pasangan yang seiya sekata. Secapek apa pun harimu kamu akan bisa berbagi dengannya, suka duka. Karena dia akan menjadi garda terdepan untuk mendukungmu kapan dan dimana pun.

6. PERSIAPAN MENTAL DAN MATERIAL
Hubungan yang serius saja tidak cukup, harus ada aksi nyata. Kamu dan si dia harus mumpuni secara mental juga secara material. Buang keegoisan masing-masing, karena menikah tidak hanya sekedar mencari pasangan hidup tapi juga partner hidup yang menyatukan dua isi kepala yang berbeda. Kalau masih belum mapan secara materi, kamu bisa lihat dari kesungguhannya mengelola waktu, uang, dan emosi. Bila untuk keperluan sendiri saja dia masih tergantung dengan orang tua atau malah kamu subsidi jangan harap dia akan menjadi pasangan sejatimu. Walau penghasilannya kecil namun bila dia ulet, rajin, tidak tergantung dengan orang tua maka dampingilah dia hingga dia.

7. PRINSIP HIDUP
Mumpuni secara mental? sudah...mapan? juga sudah. Tapi prinsip hidupnya tak sejalan padahal ini hal yang paling fundamental lho. Gimana dong? Ingat kelak kamu akan memilki keturunan yang harus diberi pendidikan akhlak sesuai keyakinan kita, bila partner hidup kita memiliki prinsip yang berbeda maka akan sulit mencari cara mendidik anak kelak. Yang satu ingin mendayung bahtera ke barat yang satu lagi ingin ke timur, mana bisa sampai ke tujuan bukan?

Semoga bermanfaat, semoga segera menemukan pasangan sejati kamu ya...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar